:: The Five Keys to Success in Education ::

>> Minggu, 11 Januari 2009

1. Number of days in school.
2. Pages of homework read.
3. Hours of TV watched.
4. A love of reading.
5. Two parents in the home.

It should come as a surprise to no-one that children do better in school when they attend class, do their homework, and read a lot. It should also be self evident that turning the television off, will help with this. As for having two parents in the home, as a father of six daughters, some times it is essential to double team the little rascals!

These are the rules; there are of course exceptions.

A friend of mine, a very talented and dynamic single mother (with 5 straight "A" children), recently said: "The schools would have driven me nuts, if it were not for the fact that I always considered it my responsibility to educate my children. I was grateful for what ever help I received along the way from the schools."

The schools can only "set the table" they cannot force the children to eat. Some children have huge appetites, and cannot get enough. Others are picky eaters, and will not eat a well-balanced meat. Still others are inclined to start food fights. These activities are largely beyond the control of the schools, but usually fully within the control of parents.

Holding teachers accountable for student achievement is as ludicrous as holding a dentist responsible for the number of cavities his patients receive.

Educational performance will not improve until parents realize that every home is a school, and that they are the teachers.

The only thing that the schools can do is to attempt to improve the quality of the meal being served, however, this is problematic. I consider the "new and improved ed-reform meal" to be poison, and will not permit my children to partake of it. Others do take the opposite view.

Read More ..

Filosofi Uang

>> Senin, 05 Januari 2009

FILOSOFI SESEORANG MENGENAI UANG, BERBEDA ANTARA SATU DENGAN LAINNYA. ADA YANG MENGANGGAP UANG SEBAGAI TUJUAN, DAN ADA YANG MENGANGGAP UANG TIDAK LEBIH DARI ALAT UNTUK MENCAPAI TUJUAN ITU SENDIRI

Baca dan renungkan kisah ini :

Mbok Iyem sudah meninggalkan peraduannya, pada saat orang lain masih terlelap bersama mimpi. Sejurus kemudian Mbok Iyem bersama rekan seprofesinya, sudah berada di mobil pick up menuju pasar induk. Kantuk yang belum juga mau beranjak, ditambah lagi dengan udara dingin yang menerpa wajahnya, seiring laju mobil, yang dengan leluasa memacu kecepatannya. Semakin menambah guratan di wajahnya, yang sudah sangat jarang bertemu dengan bedak.


Masih dengan kendaraan yang sama, tiga jam kemudian ia sudah tiba kembali, di muka jalan menuju rumahnya, pada saat itu pun belum banyak orang yang rela meninggalkan kehangatan selimutnya, namun sayup-sayup telah terdengar suara orang mengumandangkan adzan Shubuh. Belum waktunya bagi Mbok Iyem untuk beristirahat, kegiatan selanjutnya adalah menyortir
belanjaannya, memasukkan ke dalam plastik, dan menyusunnya di gerobak sayur. Hingga akhirnya, gerobak itu menyusuri jalan-jalan di komplek perumahan.

Ketika matahari telah menampakkan wajahnya, mulailah Mbok Iyem menjual barang dagangannya kepada para pelanggannya. Dan ia baru tiba di rumah setelah jam dua siang. Karena hampir tidak pernah sempat untuk memasak, maka Mbok Iyem lebih sering membeli makan siang dan makan malamnya dari warung langganannya, Mbok Iyem tidak direpotkan dengan masalah ini, karena
ia tinggal seorang diri, anak-anak dan suaminya tinggal di kampung.

Tidak hanya Mbok Iyem yang 'diperbudak' oleh uang, masih terlalu banyak orang seperti itu, Mbok Iyem misalnya, mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk dikirimkan ke kampung, sebagai biaya pendidikan ketiga anaknya, hampir tidak ada yang digunakan untuk kepentingan pribadinya.

Mbok Iyem adalah contoh seseorang yang menganggap uang sebagai tujuan semata, baginya belum pantas menikmati kebahagiaan, kebahagiaannya saat ini hanyalah ketika ia bisa mengirimkan uang ke kampung dan anak-anaknya tetap bisa bersekolah. Agar mereka mendapatkan pendidikan yang baik, lalu mencari pekerjaan yang “baik” dan “aman”. Hal ini merupakan (maaf) pola pikir seseorang yang senantiasa merasa kekurangan.

Lain halnya dengan Haji Maksum, hasil menabung puluhan tahun, dari keuntungan jual beli hewan ternak, ia investasikan ke dalam berbagai kegiatan usaha, sebagian oleh Haji Maksum dijadikan beberapa petak rumah kontrakan, sebagian lainnya ia belikan angkot (angkutan perkotaan). Saat ini hampir tidak pernah kakek dari tujuh belas orang cucu ini meninggalkan
rumah, kecuali hari Jum'at dimana ia biasa menunaikan Shalat Jum'at. Kebahagiaan telah dicapai oleh Haji Maksum. Saat ini jumlah angkotnya semakin banyak, sedangkan rumah kontrakannya sudah tersebar di beberapa daerah perkampungannya.

Pertanyaan yang kemudian menggelitik untuk segera dicarikan jawabannya adalah, apakah Mbok Iyem bisa menjadi seperti Haji Maksum, atau apakah orang-orang seperti Haji Maksum saja yang dapat mengatakan bahwa uang bukanlah tujuan, melainkan hanya alat untuk mencapai tujuan itu sendiri, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Mungkin jawabannya adalah karena Haji Maksum telah memaksa uang bekerja untuk dirinya, berbeda dengan Mbok Iyem yang bekerja untuk uang.

Sehingga ada orang yang telah menemukan kebebasan finansialnya yang memberikan tips sederhana, agar nantinya uang yang justru bekerja untuk kita, sarannya :

"Jika penghasilanmu katakanlah satu juta rupiah per bulan, maka canangkanlah dalam bathin dan benakmu, bahwa Anda hanya berpenghasilan delapan ratus ribu rupiah, dengan demikian kelebihannya itu dapat dimanfaatkan sebagai tabungan atau diinvestasikan kedalam bentuk usaha yang menguntungkan."

Kuncinya terletak pada penyesuaian gaya hidup, dan ingatlah, untuk selalu menekan tingkat kebutuhan Anda sehingga lebih rendah dari pendapatan, karena jika tidak maka Anda akan selalu defisit di akhir bulan. Menurut Steve Asikin orang yang tingkat konsumsinya lebih tinggi dari tingkat penghasilannya, adalah seseorang yang tiap harinya hanya menghitung hari, dan tidak akan mengalami kemajuan. Tinggal sekarang bagaimana Anda melihat uang dan bagaimana pula dengan tingkat konsumsi yang Anda geluti tiap hari.

Read More ..

Welcome 2009

>> Minggu, 04 Januari 2009

kita telah sampai kepada akhir 2008 dan kita akan segera memasuki tahun 2009. Sekarang adalah saat yang tepat untuk Anda untuk berpikir tentang bagaimana Anda akan hidup. Bagaimana Anda tahun ini? Apakah ini memenuhi harapan Anda? Apakah Anda membuat perbedaan tahun ini?

Apakah Anda membuat perbedaan tahun ini? Untuk menjawab pertanyaan ini, Anda hanya melihat satu tahun lalu. Bagaimana karir dan keuangan Anda? Bagaimana kesehatan Anda? Bagaimana hubungan Anda? Lebih baik jika anda memiliki angka yang jelas yang menunjukkan bagaimana anda. Misalnya, bagaimana dengan pendapatan anda, pengeluaran anda, pajak, dan sebagainya


Selanjutnya, Anda membandingkan situasi setahun yang lalu dengan situasi Anda saat ini. Apakah ada perbedaan? Atau apakah Anda membiarkan tahun ini lewat tanpa pertumbuhan yang signifikan pada Anda?

Cara lain untuk melihat apakah Anda telah membuat perbedaan tahun ini adalah untuk melihat kebiasaan Anda. Apa yang buruk menghilangkan kebiasaan anda tahun ini? Apa yang baik berupa kebiasaan anda?

Satu lagi pertanyaan untuk meminta sendiri adalah: pelajaran apa yang anda pelajari tahun ini? Mungkin Anda mempunyai beberapa kegagalan, tetapi jika kegagalan itu merupakan pengalaman berharga pada Anda maka waktu yang Anda habiskan untuk kegagalan itu bukanlah merupakan hal yang sia-sia .

Dalam kasus saya, saya tidak sepenuhnya puas dengan cara yang penulis lakukan. Saya tidak tumbuh di beberapa aspek kehidupan saya, tetapi pertumbuhan tidak terlalu baik. Di balik tabir, saya bingung di sana sini. Di sisi lain, Saya senang karena saya belajar beberapa pelajaran yang baik akan membantu saya untuk tahun yang akan datang.

Ini menakjubkan untuk melihat bagaimana waktu berjalan dengan cepat. Jangan buang waktu anda tahun depan. Menjadikannya sebagai tahun yang berbeda.

Selamat tahun baru!

Read More ..

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP